Aku Jadi Pelacur, Kuliahku Hancur Karena Selfi

Posted on

Berawal dari selfi semuanya hancur. Iya, tidak mengada-ada. Ini serius. Bahkan, aku tuliskan kisah ini sebagai nasihat untuk kalian semua para wanita muslimah. Jangan mudah mengumbar wajahmu apalagi hanya demi pengikut di instagram atau sosmed lainnya. Jangan sampai kalian hancur kemudian baru menyesal. Setidaknya melalui tulisan ini aku bisa berikan pengalaman mengerikan pada kalian semua.

Kota Bandung, adalah tujuan akhir setelah aku tamat SMA. O, ya, aku datang dari sebuah kota di Jawa Timur. Orang tuaku pedagang telur asin sukses. Terbukti aku biasa kuliah ke kampus ternama di kota kembang. Selain itu, aku juga finalis duta wisata. Banyak yang memuji kecantikanku. Meski usiaku belum genap 20 tahun.

Di tahun pertama kuliah, sangat menyenangkan. Jujur saja, aku berasal dari keluarga yang selalu taat pada perintah agama. Ayah dan ibu mengatakan, jangan sekali-kali pakai sosmed. Kalau memang harus pakai, jangan ketika kuliah. Dan serangkaian ceramah lainnya. Tetapi diam-diam aku memakainya juga. Apalagi ketika mendapatkan hadiah utama Handphone serta sejumlah uang karena menang dalam ajang pemilihan duta wisata.

Ayah dan ibuk tidak paham teknologi, tapi sangat paham soal kerusakan dari teknologi. Pesan ayah ketika mau ke Bandung. Sebagai duta wisata, tentu saja kecantikanku banyak dikagumi. Maka di Bandung aku semakin gencar upload foto pose, dan banyak hal. Intinya aku senang bisa dipuji kaum lelaki.

Ah, pokoknya surga dunia. Sampai kemudian, di kampus seorang cowok ganteng mendekatiku. Ternyata ia penggemarku juga. Nah, kami pacaran. Padahal selama di rumah, sama sekali tidak berani melakukannya.

Pacaran berlangsung aman karena jauh dari rumah. Aku akui, Nico, pacaraku sangat tampan. Apalagi dia kaya. Ke kampus selalu bawa mobil. Dan bukan mobil biasa. Banyak orang yang iri. Tapi mereka juga menyadari kalau aku memang pantas mendapatkan Nico.

Setahun pacaran, akhirnya permintaan Nico agar aku menyerahkan hartaku paling berharga kupenuhi. Di sebuah hotel, semuanya kulakukan dengan penuh cinta. Selanjutnya, Nico semakin sering minta jatah. Bisa seminggu 3 atau sehari sampai 3 kali. Semuanya berlangsung aman.

2 tahun berjalan, suatu hari, tiba-tiba aku merasa mual. Pusing dan muntah-muntah. Teman kosku membawaku ke rumah sakit karena aku pingsan. Diagnose dokter membuatku pusing tujuh keliling. Aku hamil. Kepada siapa lagi aku minta tanggung jawab, tentu saja Nico. 2 hari sepulang dari rumah sakit.

Tapi semuanya tinggal harapan. Nico ternyata seorang Playboy. Dia justru membawaku untuk aborsi. Aku bingung, harus bagaimana lagi. Sekuat tenaga aku minta tanggung jawab, dia justru mengelak. Atas perbuatannya aku laporkan dia ke polisi.

Nahasnya, dia melaporkan balik atas dugaan pencemaran nama baik. Kami berseteru hebat. Singkat cerita, semuanya berjalan dengan damai. Nico meminta damai. Tapi dia tidak mau bertanggung jawab. Stress, panic, luar biasa. Ingin rasanya aku mati. Keinginan bunuh diri masih bisa kutahan. Tapi aku melampiaskan pada hal lain.

Kenapa tidak kujual tubuh saja sekalian?

Aku tidak mau kalah. Maka, melalui jasa seorang teman aku berhasil aborsi. Setelahnya, mulai kujajakan diri di Instagram. Secara privat dan rahasia. Hanya rasa dendam yang muncul. Dendam kepada Nico. Kenapa wanita selalu menjadi obyek pelampiasan seksual saja? Kenapa tidak berfikir wanita juga manusia?

Kota Bandung menjadi tujuanku, kota itu juga menjadi saksi awal kehancuran hidupku. Sekarang, 4 tahun aku kuliah. Tapi bukannya fokus, malahan aku cari duit. Dan akhirnya aku di DO dari kampus. Ayah dan ibu tidak pernah tahu. Tahunya aku mencari duit untuk membantu mereka. Entahlah, aku ingin keluar dari semua kubangan nista ini. Karena ini bukan yang aku inginkan. Kalau bisa mengulang waktu, aku bersumpah tidak akan pernah memamerkan kecantikanku di sosmed. Tidak akan pernah selfi, tidak akan pernah pamer wajah dan aktivitasku. Semuanya sudah menjadi bubur, darimana aku harus mengubah sedangkan aku seperti menemukan kehidupan baru di sini, yang meski aku tidak betah. Tapi aku berhasil membalas dendam. Kujual tubuhku karena selfi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *