Doni adalah Suami Kedua Bagiku Sekaligus Penghancur Kehidupanku

Posted on

Namaku Tias. Lahir dan dibesarkan dari keluarga yang taat pada agama. Sebagai seorang muslim, bapak sejak kecil mendidikku untuk paham soal batasan aurat. Bahkan sampai usia 23 tahun aku juga masih memakai kerudung. Taat mengaji dan lainnya.

Aku cukup beruntung, di usia 21 tahun ada Mas Handoko yang datang melamarku. Tanpa panjang basa-basi, dia menyatakan kesungguhannya. Setelah 1 tahun mengejarku. Mulanya aku risih. Karena aku ingin bekerja dulu dan ingin berdakwah. O, ya, aku aktivis dakwah di kampus ternama Yogyakarta.

Setelah bapak mewawancarai Mas Han, kami pun menikah. Karena bapak meyakinkaku bahwa Han adalah lelaki yang baik. Dia belajar agama dengan baik setelah menikah. Bapak adalah mertua dan guru mengajinya.

Di tahun ke 2 pernikahan Allah memberikan kami keturunan. Usaha Online shop Mas Han juga melambung tinggi. Dengan total omset perbulan mencapai 200 juta dan 20 karyawan. Kami bertekad mengembankan usaha ini.

Tapi ketika itu juga aku mulai suka dengan medsos. Aktivitas membaca alquran sudah mulai jarang kulakukan. Mas Han tidak mempermasalahkan, katanya wajar di zaman sekarang pakai medsos. Apalagi dia juga bergelut di sana. Tak tanggung-tanggung iPhone keluaran terbaru dibelikan untukku.

Asik sekali bermain medsos. Hampir tiap hari aku mencobanya. Terutama ketika pekerjaan rumah sudah selesai. Dan anak kami sudah tidur.

Petaka itu datang ketika Mas Han memutuskan mengimpor barang sendiri dari Cina. Sebulan kadang bisa 2 kali dia ke sana. Dan waktunya antara 7 hari sampai 15 hari. Di Indonesia ada orang kepercayaannya yang disuruh handle. Jauhnya suami dariku, untuk mengusir sepi mulailah aku selfie. Karena suami juga kadang bertanya kabar. Aku pikir, kegiatanku kenapa tidak diupload di sana saja? Kan Mas Han jadi lebih mudah melihat.

Perkenalan dengan sesame wanita di Medsos membuatku semakin semangat. Kami sering kopdar, lalu foto-foto. Benar-benar menarik. Sampai setahun berlalu entah berapa banyak foto wajahku yang aku upload.

Tak terkira berapa ratus bahkan berapa ribu lelaki yang memujiku. Perlahan aku mulai bisa beradaptasi. Padahal awalnya sangat menolak. risih kalau ada lelaki memuji. Pernah juga mengajak kenalan melalui Direct Messege. Dan sampai ada yang mengajakku menikah. Dengan halus aku sampaikan kalau aku sudah menikah dan memiliki satu anak.

Namanya Doni. Usianya 3 tahun lebih muda. Doni lelaki ambisius pantang menyerah. Sudah aku blok akunnya, dia bikin lagi dan begitu terus. Sampai akhirnya aku menyerah. Kubuka jalan persahabatan. Dia menerima. Perlakuannya sangat manis. Tidak pernah mendikte bahkan dia gemar sekali memuji kecantikanku.

Uh, rasanya melayang. Seiring dengan suami yang lebih sering di luar negeri. Wanita mana sih yang tidak suka dipuji?

Persahabatan kami mulai mencair seiring dengan aku mengiyakan ajaknnya untuk bertemu. Entahlah, tiba-tiba aku senang sekali dengan ajakannya. Hari itu, Selasa. Aku ingat. Di rumah makan sempit di kota Yogyakarta, kami bertemu. Kubawa anakku. Dia begitu dewasa. Rasanya aku menemukan cintaku yang hilang.

Di pertemuan itu juga, Doni berlutut memberikan cincin padaku. Katanya, “Sejak awal melihatmu di foto, aku merasakan menemukan mentari dan jalan untuk terus melangkah. Bukan ingin menghancurkan rumah tangga atau mengganggu, cinta memang tak harus memiliki makanya izinkan aku sematkan cincin ini dan tidak meminta kembalian apapun.”

So sweet. Romantic sekali. Dengan sukarela aku ulurkan tangan kanan. Air bening menetes dari sudut mataku. Dadaku berdetak kencang. Menggemuruh. Ingin rasanya kupeluk lelaki di depanku.

Ketika pulang, dia mengantarkanku dengan cara mengawal. Mobilku di depan sedangkan dia 10 atau 20 meter di belakangku. Rasanya senang bukan kepayang. Tapi terpikir olehku untuk memberikannya sesuatu yang berharga.

Sekitar 2 malam aku tak bisa tidur. Cincin kupandangi, tersenyum sendiri. Untung saja suami sedang tidak di rumah. Sampai akhirnya seminggu kemudian kuajak Doni bertemu. Kali ini bukan di restorant. Karena aku ingin bersamanya melewatkan waktu meski hanya 1 jam. Kuajak Doni bertemu di hotel bintang 5 di kotaku.

Bisa ditebak apa yang akan kulakukan. Pembaca pasti tahu, aku mengajaknya melakukan hubungan terlarang.

Setelahnya, cinta kami semakin membara. Hingga aku tidak kuat rasanya. Setahun berjalan, hubungan ini semakin mesra. Ketika suami ke luar negeri. Aku ajak dia bertemu dan seperti biasa. Puas mereguk asmara. Aku ajak Doni menikah. Dia mau. Segera kuatur caranya agar bisa bercerai dengan Mas Hand, lelaki yang dengan sabar menerima kekuranganku selama ini.

Bapak tidak setuju, begitu juga yang lain. Mas Hand menangis ketika aku sampaikan, sudah punya lelaki lain yang lebih aku idamkan. Dia gentle sekali. Aku diceraikan dengan tabah. Tapi dengan syarat anak kami ikut dia. Aku izinkan dengan hati senang.

Pernikahan dengan Doni berjalan sempurna. Seminggu setelah menikah aku diboyong ke Kalimantan. Doni benar-benar bisa menanjakan wanita lahir batin. Aku senang, aku bahagia. Sampai lupa dengan keluarga dan anak. Setelah 7 bulan menikah, aku dengar kabar Mas Han sudah menikah lagi dengan seorang wanita muslimah lulusan Al-azhar Kairo. Anak seorang kyai di Yogyakarta.

Di saat itulah deritaku bermula. Ternyata Doni adalah penjahat. Setelah puas menghancurkan rumah tanggaku, dia bermain dengan wanita lain. Sama, dia mendapatkan kenalan dari Sosial Media.

Pernikahanku hancur. Hanya 1 tahun berjalan. Ketika aku terkena penyakit kanker paru-paru, dia justru membuangku, menyuruhku pulang dengan ucapannya bahwa aku sudah ditalak 3. Memang aku menjadi kurus, jelek, dan ah sangat tidak menarik. Dengan hati hancur. Aku pulang ke rumah. Tapi tidak jadi, aku malu pada bapak, pada ibu apalagi kalau Mas Handoko tahu. Dulu dengan sombong aku meminta cerai, sekarang?

Ah, Doni. Iya, Doni adalah suami kedua bagiku sekaligus penghancur kehidupanku. Percaya atau tidak, silakan. Yang jelas rumah tanggaku, hidupku hancur karena selfi. Iya, awalnya dari selfi. Sekarang, saat kutulis kisah ini aku ada di rumah sakit dengan diagnose penyakit bermacam-macam. Jika Allah masih mengizinkan aku hidup. Berarti aku masih bisa melanjutkan kisah ini.

Yang lebih membuatku hancur lagi. Mas Handoko yang menemukanku menjadi gelandangan dengan berbagai penyakit. Dia yang merawatku dan membawaku ke rumah sakit. Seperti saat ini. Jangan pernah sia-siakan lelaki yang mencintaimu, karena jika dia sudah membencinya, hidupmu tidak akan pernah tenang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *