Kata Pengantar: Omongan Hatter

Posted on

Rani dikenal cantik, ia lulusan Amerika. Usianya belum genap 25 tahun. Ia cerdas banget. Sejak lama ia memiliki akun Instagram. Setiap hari ia upload foto dirinya, ketika kegiatan apapun. Bahkan hendak ke WC pun dia upload, share.

Suatu ketika, Mamanya mengingatnya agar tidak melulu upload foto. Apalagi semua foto yang diupload selalu menonjolkan sisi kecantikannya. Rani bergeming. Di depan sang ibu ia mengangguk tapi ia memilih untuk tidak menjalankan perintah ibu.

Rani lebih suka dipuji, digemari. Bahkan puluhan ribu lelaki mengirimkan pujian setiap ada foto baru. Puluhan ribu lelaki mengirimkan Direct Message setiap harinya. Ada yang mengajaknya menikah, ada yang ingin membeli tubuhnya. Ada juga yang Cuma memuji kecantikannya. Maklum saja, ia gadis Indonesia dengan darah Arab dan Belanda. Hidungnya mungil dan mancung.

Rani memiliki mata belo. Bibirnya merah ranum. Setiap wanita yang memandang pasti iri. Setiap lelaki yang melihat pasti suka.

Sayangnya, sebagai seorang muslim Rani tak peduli dengan aturan agamanya. Di rumah ia membohong sang ibu dengan jilbab dan pakaian muslim. Di luar ia mabuk, memakai bikini. Menjelang usia 25 bahkan ia terbang ke Hawai bersama teman lelakinya.

Sang ibu sedih bukan main. Apalagi ia memaki dirinya dengan sebutan hatter karena sering memberikan nasihat, menegur.

Di sisi lain Aisya, teman kecil Rani adalah gadis yang sempurna. Wajahnya tak kalah cantik dengan Rani. Tapi ia mantan pelacur. Ia pindahan dari luar jawa. Semua itu berawal dari orang tuanya yang broken. Ibunya kawin cerai.

Aisya tumbuh dalam glamour. Bahkan uang dari ayah tirinya dipakai untuk menyimpan Gigolo. Ia masih mudah, tubuhnya semampai luar biasa. Pernah menjadi model ternama tanah air. Berzina sudah menjadi hal biasa bagi Aisya, sampai ujungnya sang ibu mati dibunuh oleh kekasih gelapnya.

Aisya terluna-lunta. Untuk mencukupi gaya hidupnya ia memanfaatkan media sosial. Ia menjual tubuhnya. Bahkan menjadi simpanan lelaki hidung belang.

Suatu ketika, ia mendapat order. Ia akan dibooking oleh seorang lelaki tua kaya raya. Dengan penuh semangat ia berdandan. Lalu menuju hotel yang disepakati. Germo sudah memberikan uang kepadanya dalam jumlah besar.

Aisya masuk ke kamar. Di atas ranjang seorang lelaki menunggu sambil bermain Hp. Tanpa tunggu lama Aisya menanggalkan pakaian kemudian mulai menarik. Ia membelakangi pemesan. Tapi ketika ia membalikan badan, Aisya gemetar melihat pemesan.

Si pemesan adalah ayah kandungnya. Sejak saat itulah ia mulai prustasi. Bagaimana bisa ia berzina dengan lelaki yang menjadi asal-usul dirinya?

Ayahnya pun demikian. Si ayah menyesal lalu minggat dari kamar tanpa permisi. Aisya menangis sendirian. Seminggu kemudian ia mendatangi seorang ustaz bertanya cara bertaubat. Katanya, kalau ingin taubatnya maksimal silakan hijrah dari tempat awal ke tempat baru. Aisyah menjalankaannya. Pindah ke Jakarta. Tak disangka, di sana ia bertemu dengan Rani, yang merupakan teman kecil dahulu.

Di Jakarta Aisya belajar aturan agama lebih ketat dan lebih dalam. Lalu ia menikah dengan teman sepengajiannya atas rekomendasi ustaznya. Kini ia menggunakan sosial media untuk jualan. Mengindari upload foto wajah wanita. Semua foto di instagram dan facebook isinya dagangan.

Ibunya Rani ini anaknya meniru Aisya. Hidup tenang, damai, agamis. Tapi sayangnya Rani lebih suka dengan pujian lelaki. Lebih suka jika kecantikan dan kemontokan tubuhnya digilai lelaki. Siapapun itu.

Maka, ketika ada tawaran untuk berzina dengan bayaran tinggi Rani selalu galau. Rani kemudian menikah dengan pengusaha kaya raya. Tetapi setahun rumah tangganya hancur. Karena Rani memiliki pria idaman lain, yang ia kenal di Instagram. Fakta lainnya adalah Rani seorang cewek bayaran. Hal itu juga dilakukannya dari media sosial.

Suaminya selama ini curiga, karena Hp milik istrinya diberikan password dan tidak boleh dibuka siapapun. Gugat cerai dilakukan. Bahkan, para penggemarnya sekarang semakin banyak. Rani cuek saja dengan kejadian itu meski ibunya meninggal akibat shock. Tapi prinsip Rani, “Ini hidupku, hanya aku yang boleh mengaturnya. Makanya tidak pernah kupedulikan omongan hatter.”

Kisah Rani dan Aisya di atas, mungkin bisa saja disebut rekayasa. Tapi apakah tidak ada kejadian sama persis di dunia nyata? Saya sendiri yakin pasti ada. Yang menarik, orang yang menganggap nasihat sebagai hater bukan hanya yang tidak paham agama.

Di zaman sekarang, para wanita muslimah. Berkoar hijrah, kerudung panjang 5 meter, tapi gincunya tebal setengah centi. Dan setiap hari upload foto selfi. Katanya agar hijrahnya menginspirasi. Aduhai kenapa tidak berfikir akhirnya sih?

Pada perjalanan menulis buku ini, saya banyak meneliti di Instagram. Para muslimah yang setiap hari upload foto selfi minimal 3. Ada juga yang 20. Gilanya lagi, ada yang selalu selfi. Tiada hari tanpa selfi.

Pertanyaannya, wajibkah selfi wahai ukhtii?

Melihat asal-usulnya. Foto sebenarnya hanya untuk identitas diri. Tetapi kemudian dijadikan untuk mengabadikan kenangan. Dan sekarang era kemudahan teknologi foto dijadikan ajang pamer wajah, dan mencari penggemar. Mencari lelaki. Menunjukkan strata sosial.

Ngga afdhol kalau belum selfi. Tujuannya buat apa?

Buku ini akan mengulas semua manfaat dan seluk beluk selfi. Serta bagaimana selfi menjadi penyakit paling kronis bagi kaum muslimin. Selfi menghancurkan ibadah. Serta merusak rumah tangga. Tidak percaya? Simak yuk selengkapnya di buku yang ada di tangan Anda ini.

Wonosobo, Waktu Dhuha Maret 2019

 

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *