Penggemarku di Media Sosial Adalah Lelaki Simpananku

Posted on

Tidak ada hari tanpa memuji. Wahyu namanya, usianya baru 21 tahun. Tapi ia mengaku begitu kecantol padaku yang semestinya jadi emaknya. Aku Dina 48 tahun. Seorang istri pengusaha kuliner. Namaku Winta Ardianti. Kelahiran Sumatera Selatan, dan kini menetap di Jakarta.

Perkenalan dengan Danang memang tidak disengaja. Bukan aku sih, dia dulu yang memulai. Karena selama ini aku pilih-pilih teman di sosmed, jadi akunku diprotek, orang yang hendak berteman harus mengirimkan permintaan dulu. Suatu ketika, siang hari. Saat sedang suntuknya, aku main saja sosmed. Sebuah permintan pertemanan dengan foto yang bagiku imut banget. Rasa penasaran bergelora. Dan akhirnya konfirmasi.

Setelah aku konfirmasi, dia langsung mengirimkan direct Message. Isinya ucapan terima kasih, kemudian ingin kenalan denganku. Cuek. Itulah aku. Tidak ada balasan sama sekali. Meski begitu dia terus saja menyapaku. Bahkan sehari bisa 6 kali. Lama kelamaan aku luluh. Padahal, sebelumnya aku termasuk orang yang cuek.

Kurang apa sih aku? Suamiku memberikan segalanya, pujian, sanjungan, cinta, harta dan juga banyak lagi. Selama ini aku juga menjadi aktivitas masjid. Menjadi ketua pengajian ibu-ibu. Dan semua orang tahu kalau aku termasuk ibu-ibu yang kekinian.

Singkat cerita, pujian Danang benar-benar beda dengan suamiku. Aku suka dengan caranya memuji. Sopan, tidak lebai. Aku panggil dia dengan sebutan “Dik” Karena memang dia pantas jadi anakku. Danang terima begitu saja. Dia memanggilku ibu. Akhirnya kami akrab, karena dia perhatian padaku. Dia mashasiswa teknik computer di sebuah kampus di Jakarta. Anaknya baik, penurut lagi. Yang lebih menyenangkan dia memiliki tubuh yang bagus.

Akhirnya aku akrab dengan Danang. Semuanya berawal dari pujian, dari foto selfiku. Kini aku dan Danang seperti ibu dan anak. O, ya, meski usia pernikahan sudah 20 tahun lebih, namun suamiku mandul. Kami tidak diberikan momongan. Hanya ngangkat anak, itupun sekarang sudah menikah.

Mungkin karena rasa kesepianku. Atau bisa jadi aku yang jalang. Entahlah. Aku semakin gila dengan selfi. Setiap hari mengharap pujian dari dia. Genap 2 tahun berlalu, aku beranikan diri untuk memelihara Danang sebagai simpananku. Dia mengiyakan. Kami jalani hubungan terlarang ini dengan sangat rapat.

Tak jarang aku ajak dia ke Bandung, di sana kami nginep 3 atau 4 hari. Bahkan yang paling berani ketika suami ke Jawa Tengah 10 hari, Danang kubawa ke rumah. Dan sudah bisa ditebak tiap hari kami berhubungan.

Sepandai-pandaianya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Penggemarku di media sosial adalah lelaki simpananku, suamiku akhirnya tahu. Salah seorang saudaranya mengintip akun sosmedku. Lalu cerita kalau ada yang komen mesra denganku. Suamiku menunguntit, bahkan mengintip.

Kami digerebek di sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Saat itu juga suamiku menjatuhkan talak 3. Proses cerai berlangsung, aku malu. Malu sekali. Daripada menanggung malu di ibu kota, aku pulang ke kampung halaman. Tapi di sana aku dicuekin oleh orang tua dan saudara karena kelakuan bejatku.
Ya Allah, jika waktu bisa terulang, jangankan foto selfie, main sosmed pun aku tidak akan mau. Cukuplah cerita pilu ini jadi pengalaman untuk muslimah lainnya. Dan hati-hatilah dengan foto yang disebar di dunia maya.
Karena aku yakin, bukan hanya aku yang sudah mengalaminya. Awalnya sih enak, ringan. Tapi kemudian hancur. Benar sekali kata rosulullah, jika wanita keluar rumah maka setan membuntutinya dari 4 arah mata angin. Mengerikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *