Pujiannya Membuatku Muak, Tapi Aku Luluh Juga

Posted on

Mungkin 1000 atau bahkan 2000 kali dia memujiku. Muak, karena selalu saja dia mengatakan aku cantik, montok, bahkan lemu ginguk-ginuk. Aku jijik, karena sudah punya suami. Tapi Yusuf selalu saja mengejarku. Dia pernah baik, dia juga selalu baik. Hanya saja akhir-akhir ini dia selalu mengarah kepada tubuhku ketika bicara.

Aku mengenal Yusuf di Instagram sekitar 1 tahun yang lalu. Ketika itu aku sama sekali tidak tahu cara memakainya. Melalui pendekatan yang sopan dan halus, Yusuf kemudian mengajarkanku cara bermain instagram termasuk bagaimana cara selfi setiap hari kemudian lamgsung diupload ke IG.

Namaku Maryam, lahir dan dibesarkan di kota dingin Wonosobo. Tapi sejak hari pertama pernikahan dengan Agus, teman kuliah sekaligus kekasihku, aku tinggal di Cilacap. Anakku sekarang seharusnya 3, dua dari Mas Agus, satunya dari Yusuf. Iya, tidak salah.

Semuanya berawal dari Selfi. Selfi yang membuat keluargaku hancur dan sekarang aku masuk penjara karena membunuh darah dagingku. Agus kecewa berat, ia menceraikanku dengan talak tiga kemudian membawa semua anakku entah ke mana. Mertua dan ibu kandungku juga tidak mau membantuku.

Aku bejat, aku sama sekali tidak bisa dimaafkan. Setidaknya, melalui kisah ini aku bisa membagikan pengalaman hidup yang mengerikan kepada sesame wanita. Jangan mudah selfi! Itu pesanku.

Semua kisah tersebut bermula dari tahun 2017. Sebagai ibu muda yang baru menginjak usia 22 tahun, tentu saja tidak ada kerjaan yang lebih menarik daripada bermain sosmed. Sayangnya aku sama sekali tidak paham dengannya.

Agus suamiku membelikan tablet. Aku ingat, iPad mini. Di rumah jaringan internet dengan bandwith gede terpasang. Awalnya, sama seperti wanita umumnya, aku menjaga diri. Jual mahal pada Yusuf, namun kesalahanku kenapa selalu saja mengizinkan ketika dia meminta fotoku?

Selain itu aku yang salah. Sudah tahu ada yang begitu ambisi mengejarku selalu saja kuopload foto selfi. Bahkan sehari bisa sampai 10. Kegiatan apapun selalu kuupload. Jujur saja, sebagai wanita aku bangga sekali dipuji cantik. Terlebih suamiku mulai jauh dariku, karena sebagai pemilik CV yang bergerak di bidang instalasi computer, kadang kerjaan memaksanya keluar kota sampai 1  minggu.

Singkat cerita, aku mulai merasakan kesenangan dan asik ngobrol dengan Yusuf. Karena sudah akrab, akupun Tanya rumahnya, apakah bisa ketemu atau main ke rumahku? Tentu saja ketika suami tidak ada.

Ah, dia menyanggupi. Ternyata foto dan aslinya beda jauh. Yusuf lebih tampan dari fotonya. Tubuhnya kurus tinggi. Lesung pipi membuatnya semakin enak dipandang. Kepada Anak-anak dia kukenalkan sebagai Om Yusuf Oppa. Meski tidak mirip banget, dia sangat Korea wajahnya.

Lama kelamaan suamiku tahu soal ini. Dia biasa saja, bahkan menyuruh untuk sering-sering ke rumah, karena dia sendiri sering ke luar kota. Kata suamiku, kasihan kalau aku sendiri tidak ada temannya.

Setahun berjalan hubungan kami memang semakin dekat. Bahkan Yusuf kadang nginep di rumah jika tidak ada suami. Itupun atas izin Agus. Kami sudah seperti saudara. Tapi satu hal yang tidak hilang dari Yusuf, dia masih saja mengagumi tubuhku. Dan entah kenapa aku semakin suka jika dipuji seksi, montok, pandai merawat tubuh.

Padahal, cinta dan kasih sayang suami tidak kurang.

Perlahan namun pasti, aku sering mengajak Yusuf keluar jika suami tidak ada. Itupun sekedar ke mall belanja. Tidak lebih. Sampai suatu ketika, aku bermimpi Yusuf duduk di pelaminan denganku.

Dan kemudian mimpi itu kusampaikan. Yusuf tersenyum manis sekali. Seiring dengan itu dia nyletuk, “Kalau saja aku mau, dia bersedia jadi suami kedua.” Seketika aku memekik gila. Namun entah kenapa perkataan itu terbawa dalam mimpi. Sangat meresahkan.

Esoknya, aku ajak Yusuf bertemu di sebuah hotel bintang lima. Di sana aku bicarakan semuanya dalam nuansa asmara yang kental. Seperti kesetanan, ketika itu aku begitu agresif. Semuanya terjadi begitu saja. Herannya tidak sedikit aku menyesal. Bahkan aku berkata, “Tidak usah menikah. Sekarang kita saling memiliki.”

Setelahnya, semua semakin menjadi. Ketika suami tidak ada, di rumah kami melakukan semuanya. Bahkan tidak jarang Anak-anak kami kondisikan aagar tidur atau keluar rumah lalu kami berhubungan sampai puas.

Setahun berlalu, tepat Januari 2018 aku melahirkan anak ketiga. Tetapi seminggu kemudian kehidupanku seperti di neraka. Mas Agus suamiku menunjukkan tes DNA bahwa anak yang aku lahirkan bukanlah anakku. Kemudian dia juga membawa rekaman perselingkuhan aku dan Yusuf.

“Aku berikan kepercayaan, kamu berkhianat. Sekarang juga kamu aku ceraikan dengan talak tiga.”

Setelahnya, aku hubungi Yusuf. Dan beritahu kalau semuanya sudah terbongkar. Rupanya Agus suamiku, sudah menemui Yusuf. Dia meminta agar Yusuf menikahiku, tapi dia akan membawa anaknya yang 2. Yusuf mengatakan iya, tetapi kepadaku dia mengatakan bahwa dirinya masih terlalu muda untuk menikah dan meminta maaf padaku.

Setelahnya dia sama sekali tidak bisa dihubungi. Bodohnya, semua alamat yang dia berikan ternyata palsu. Akhirnya aku terpuruk dalam kegamangan. Hanya melamun, menyesali kebodohan yang aku lakukan.

Suatu malam, entah setan apa yang merasuk. Bayi 29 hari tersebut aku banting hingga mati. Lalu kukubur di belakang rumah. Dan semuanya kembali terbongkar. Aku stress, dipenjara di rumah sakit jiwa. Ya Allah. Jika waktu bisa terulang, aku tidak akan mau upload foto di sosmed. Jangankan foto selfi, foto tanganku tidak akan pernah. Karena itu awal penyebab semua ini terjadi.

Selfi membawa bencana dalam hidupku. Wajar jika Allah memerintahkan sebaiknya wanita di dalam rumah, jika terpaksa keluar, jangan berdandan. Semoga Allah masih memberiku kehidupan agar bisa memperbaiki semuanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *